Coppelia



★ Coppelia PDF / Epub ✪ Author Novellina A. – E17streets4all.co.uk Sejak kecil Oliver sudah jatuh cinta pada Nefertiti yang aneh Namun, tetangga depan rumah sekaligus teman sekelasnya itu tibatiba menghilang Oliver ditinggalkan sebelum sempat membuat gadis itu mengin Sejak kecil Oliver sudah jatuh cinta pada Nefertiti yang aneh Namun, tetangga depan rumah sekaligus teman sekelasnya itu tibatiba menghilang Oliver ditinggalkan sebelum sempat membuat gadis itu mengingat namanya Sampai ke Jerman, Oliver mencari cinta pertamanya Hingga akhirnya mereka bertemu Tetapi, keadaan telah berubah Nefertiti bukan lagi gadis yang dulu Penari balet itu terluka sangat dalam dan menganggap cinta sebagai rasa asing yang terlalu mewah untuk ia miliki Akankah cinta menemukan jalannya, atau Nefertiti tidak akan dapat meloloskan diri dari masa lalunya yang begitu dingin… sedingin kisah boneka Coppélia yang begitu dicintai ibunya.Coppelia

Novellina A adalah arek Malang yang kini tinggal di JakartaIa sangat suka membaca, menulis dan travelling hobi masyarakat pada umumnyaPengarang favoritnya adalah Haruki Murakami dan JK Rowling.

Paperback  ì Coppelia Kindle ò
    Paperback ì Coppelia Kindle ò gadis yang dulu Penari balet itu terluka sangat dalam dan menganggap cinta sebagai rasa asing yang terlalu mewah untuk ia miliki Akankah cinta menemukan jalannya, atau Nefertiti tidak akan dapat meloloskan diri dari masa lalunya yang begitu dingin… sedingin kisah boneka Coppélia yang begitu dicintai ibunya."/>
  • Paperback
  • 192 pages
  • Coppelia
  • Novellina A.
  • Indonesian
  • 19 May 2019

10 thoughts on “Coppelia

  1. says:

    Menang Goodreads giveaway!!!

    Yaaayy!!!


    Jadi sebenarnya Coppelia ini bercerita tentang seorang anak yang haus kasih sayang ibunya. Iya, sinopsis backcovernya menipu banget (huh!)

    Sejak kecil, Nefertiti selalu merasa inferior dibanding ibunya, yang seorang pelukis terkenal. Ibunya tak pernah lelah menggali bakat seni di tubuh Nefertiti, sampai akhirnya Nefertiti menambatkan hatinya pada balet. Sayang, ia tetap membuat ibunya kecewa dengan pertunjukan perdananya. Tak lama, kedua orangtua Nefertiti bercerai dan Nefertiti berpisah dari ibunya.

    Nefertiti dewasa menjalani hidup terombang-ambing. Karir baletnya selalu diwarnai bayang-bayang ibunya. Nefertiti yang pendiam dan tertutup menyimpan perasaannya sendiri sampai akhirnya dia bertemu kakaknya, Brian, dan tetangganya, Oliver, yang mengabarkan kalau ibu Nefertiti.... (apa hayoooo???)

    Yang gue suka dan layak jadi highlight untuk buku ini adalah kemampuan Penulis menghidupkan karakter Nefertiti. Dunia Nefertiti yang kelam, sepi, dan terbungkus rapat disajikan dengan jelas melalui suara khas Nefertiti. Alur maju-mundur dan kenangan-kenangan Nefertiti semakin menjelaskan duka yang dibawa Nefertiti selama hidupnya dan membuat penasaran juga, mau dibawa ke mana sih, kisah ini?

    Settingnya sendiri, yang menggunakan Yunani, Jerman, dan flashback Indonesia, yaaa emang pas. Emang dibutuhkan, bukan sekadar tempelan biar ceritanya ngikutin tren (eh berasa nggak, sih, kalo novel2 Gramedia sekarang kebanyakan bersetting di Eropa?) dan terasa menyatu dengan cerita.

    Yang kurang mungkin penulisannya yang kurang teliti yaa.. ada beberapa kali gue nemuin ketidakkonsistenan penyebutan beliau dan dia, penempatan kata yang terbalik, dan kata yang hilang. Tapi secara umum nggak gitu ganggu.

    Di luar covernya yang terlalu unyu dan sinopsis backcover yang nggak gitu sesuai, gue merekomendasikan novel ini.

  2. says:

    Ini cerita menyentuh sekali. Di Fantasi, kita disuguhi cerita persahabatan yang mengharukan. Sedangkan di Coppelia kita disuguhi cerita tentang hubungan seorang putri dengan ibunya. Novel ini diceritakan dengan kalimat2 yang menyentuh. Di awal kita dibuat menebak2 apa yang terjadi dengan Nefertiti. Apa yang membuat gadis itu terluka begitu dalam dan memilih kabur dari keluarganya yang tergolong sempurna. Tiap bab seperti kepingan puzzle yang segera ingin kususun untuk mendapatkan gambaran mengenai kehidupan Nefertiti.

    Cara penulis menggambarkan cinta Oliver pada Nefertiti pun aku sangat suka. Simple tapi maknanya dalam. Aku masih penasaran dengan apa yang terjadi pada Theos. Laki2 itu masih seperti misteri di novel ini. And I love the ending so much ;)

    Well, novel ini bagus dan menyentuh. Sejak baca Fantasi, aku sudah jatuh cinta dengan karya penulis. Moga2 kalau penulis pulang ke malang, aku bisa ketemu dan ngobrol2 :))

  3. says:

    Resensi bisa juga dibaca di http://www.kubikelromance.com/2016/03...


    Baca buku ini sudah beberapa minggu yang lalui melalui iJak karena tidak juga memilikinya sampai sekarang secara fisik, hehehe. Coppélia adalah salah dua metropop yang membuat saya penasaran, selain 3 karya Alicia Lidwina, yang katanya tidak seperti metropop kebanyakan, ratingnya juga sangat bagus. Saya belum membaca karya debut Novellina, tapi dengan membaca buku ini dan membaca review buku debutnya, saya sedikit menerka-nerka kalau penulis mempunyai minat terhadap karya klasik. Di buku pertama dia bercerita tentang piano, di buku keduanya ini dia banyak membahas balet dan lukisan. Selain itu, nama-nama yang dia pilih untuk para tokoh utamanya juga cukup unik.

    Coppélia beraura dark, ceritanya cukup gelap. Di awali dengan setting di Santorini, Yunani, di mana sang tokoh utamanya Nefertiti 'melarikan diri', di sana dia bertemu dengan orang yang sangat mirip dengannya, berbicara hanya dengan orang yang dia rasa bisa dipercaya. Dalam perjalanan kembali ke Jerman karena Nefertiti sudah kehabisan uang, dia menceritakan masa lalunya kepada Theos, anak dari Angeliki, wanita yang memiliki rumah tempat Nefertiti menumpang selama di Santorini. Dimulailah cerita dari masa kecil Nefertiti yang penuh tekanan dan kurang kasih sayang dari ibunya, yang sejak kecil selalu dipaksa mencari apa bakat yang dimiliki, apakah arsitek seperti ayahnya atau melukis seperti ibunya. Dia dipaksa harus berprestasi, membuat masa kecilnya penuh tekanan, membuatnya jarang bisa bersosialisasi dengan teman-teman di sekolah. Dia hanya punya satu teman, teman yang tidak bisa berbicara dan menderita keterbatasan mental.

    Di belahan dunia yang lain, Oliver mencoba mencari Nefertiti, tetangga sekaligus teman sekolah yang diam-diam dia cintai. Ketika ada reuni SMA di Jakarta, Oliver mendengar pembicaraan tentang Nefertiti dari teman-teman perempuannya, yang mengatakan kalau Nefertiti adalah perempuan aneh, tidak pernah berbicara, tidak memiliki teman tapi masuk siswa yang berprestasi dan bertanya-tanya kemana dia sekarang ini. Dia berharap Nefertiti bakalan datang, tapi seperti tahun-tahun sebelumnya, dia tidak pernah muncul lagi, dia yang bertempat tinggal di depan rumahnya juga tidak tahu kemana dia sekarang berada. Bahkan Oliver sampai meneruskan kuliah dan memilih Jerman karena siapa tahu Nefertiti juga ada di sana, siapa tahu dia bisa bertemu lagi, tempat di mana sekarang ibunya tinggal setelah kedua orangtuanya bercerai.

    Brian dan Ayumi seperti antigen dalam hidupku. Mereka coba meringsek masuk ke pertahananku dan mencoba memperkenalkan warna warni pelangi.

    Luka karena kehilangan seseorang yang sangat kau cintai tak bisa bagitu saja berkurang oleh waktu. Ada kalanya kau merasakan sakit yang beratus-ratus kali lipat, kataku lagi. Aku tidak takut tidak bisa melihatnya lagi, tapi aku takut aku akan mati karena tidak bisa terlepas dari kenangannya.

    Saya cukup menikmati Coppélia ini, jenis cerita yang 'aku banget', dark, pilu, ada harapan akan kehidupan yang lebih baik, ada seseorang yang akan mencintai dengan tulus. Hanya saja di bagian awal saya cukup dibuat bingung dengan setting dan sudut pandang penceritanya. Saya bukan kebanyakan pembaca yang tertipu dengan blurb di belakang sampul karena saya tidak membacanya terlebih dulu. Di bab pertama, Nefertiti sebagai narator alias sudut pandangnya mengambil orang pertama, kemudian di bab kedua saya harus berhenti sejenak, membaca ulang dan mencerna lebih lama karena narator berganti menjadi Oliver. Tidak masalah sebenarnya, sudut pandang orang pertama membuat pembaca lebih memahami apa yang dialami karakter tokoh utamanya, hanya saja 'suara' Nefertiti dan Oliver hampir sama, sehingga di awal saya cukup bingung, cerita yang mulanya bersetting di Yunani kemudian tiba-tiba ada di Jakarta. Cerita disuguhkan secara bergantian dari Nefertiti kemudian Oliver, begitu seterusnya.

    Alur yang dipilih penulis maju mundur, di bagian ini saya juga perlu berkonsentrasi apakah ada di masa sekarang atau sebaliknya. Saya merasa plotnya kurang rapi, tapi setelah ke belakang saya bisa mengikuti dan menikmatinya. Chemistry antara Nefertiti dan Oliver kurang, tidak banyak interaksi yang mereka lakukan, tapi adegan ketika Oliver mengajak Nefertiti pulang sekolah bareng itu cukup romantis. Diksinya bagus, referensi tentang balet dan segala sesuatu yang berbau klasik perlu diapresiasi, semua dilebur menjadi satu kesatuan dan tidak terasa kalau tempelan semata. Satu hal lagi yang menarik di buku ini, yaitu salah satu jenis kepribadian yang melekat pada Nefertiti, dia adalah seorang INTJ (introversion, intuition, thinking, jungement), salah satu jenis kepribadian yang langka di dunia, sayangnya dalam hal ini tidak dikembangkan penulis secara detail.

    Mengesampingkan beberapa kekurangannya, yang saya sukai dari buku ini adalah tema ibu-anak yang diangkat penulis, dalam sekali dan emosinya terasa. Saya bisa merasakan bagaimana harapan Nefertiti akan lebih dipedulikan ibunya, ingin hubungan mereka dekat layaknya orang lain, tidak hanya dituntut selalu sempurna dengan bakat yang dimiliki, berharap ibunya bangga dengan apa yang sudah diusahakan Nefertiti. Puncaknya adalah ketika Nefertiti gagal menjadi pemeran utama dalam Swan Lake. Gezzz, kecewanya terasa sekali. Apa yang dialami Nefertiti banyak juga dialami oleh para anak di luar sana.

    Kadang orangtua memaksakan kehendak atau impiannya kepada anak, anak sebagai pabrik pemuas ego, tanpa melihat apakah anaknya mampu atau tidak. Ketika sang anak mencoba sebaik yang dia bisa dan gagal, mereka langsung kecewa, padahal sang anaklah yang jauh lebih kecewa. Tekanannya banyak, kecewa akan diri sendiri yang sudah berlatih keras, kecewa karena telah mengecewakan orang yang berharap lebih padanya. Seharusnya mereka didukung, semua orang bisa gagal, dan tidak ada yang sempurna di dunia ini. Namun demikian, saya juga tidak langsung menghakimi ibu Nefertiti, melihat kisah masa lalu di bagian akhir saya mengerti kenapa ibunya sangat keras pada Nefertiti perihal balet.

    Saya menyukai hampir semua tokoh pendukungnya, Brian yang dengan tulus menyayangi Nefertiti walau mereka bersaudara tiri, ayah Nefertiti yang selalu ada dan mendukung apa pun yang dilakukan anak semata wayangnya. Oliver juga manis, penantian akan cintanya membuktikan kalau Nefertiti tidak sendirian di dunia ini, akan ada orang yang akan tulus mencintainya. Saya juga menyukai hubungan Nefertiti dengan gadis bisu yang sering diejek anak-anak kampung sekitar, kadang kita membutuhkan teman yang hanya mendengarkan, menampung apa pun yang kita rasakan, saling berbagi kesedihan.

    Overall, Coppélia memberikan rasa yang berbeda dalam lini metropop, yang menyukai segala sesuatu berbau klasik dan sedikit misteri, tentang seorang anak yang haus akan kasih sayang ibunya, buku ini sangat recommended.

    3.5 sayap untuk Brian yang jenius bermain piano.

  4. says:

    Sejak membaca debutnya Fantasy aku sudah suka dengan tulisan Novellina A.dan ketika novel ini terbit, aku tidak membutuhkan waktu lama untuk membacanya.

    Novel ini mengisahkan tentang kehidupan seorang Nefertiti. Nefertiti yang dianggap aneh oleh teman-teman dan bahkan lingkungan sekitarnya, Nefertiti yang jarang berbicara dengan orang lain. Bagi Nefertiti, hanya Mia, sahabatnya yang bisu dan ayahnya saja yang mengerti dirinya. Sedangkan ibunya terasa terlalu jauh dan sulit untuk dijangkau.

    Nefertiti pun tumbuh menjadi wanita yang berbeda. Nefertiti merasa tidak memiliki bakat apapun, hal yang sungguh berbeda dengan kedua orangtuanya yang berbakat. Lahir dari ayah yang seorang arsitek terkenal sekaligus ibu yang memiliki bakat melukis yang indah membuat Nefertiti memikul beban yang berat. Nefertiti pun menemukan dirinya dalam balet, tetapi tetap saja ibunya seakan tidak bisa menganggapnya luar biasa.

    Nefertiti pun semakin sulit untuk dijangkau, menjadi semakin tertutup apalagi kemudian ayah dan ibunya memutuskan untuk bercerai, tidak ada lagi tempat untuknya. Nefertiti pun memutuskan untuk melanjutkan ke sekolah Balet di Jerman, tetapi tetap saja ada perasaan kosong dalam dirinya, yang membuatnya akhirnya memutuskan untuk berhenti dan menghilang.

    Dilain sisi, ada sosok Oliver teman SMA sekaligus tetangganya yang ternyata memendam perasaan cinta sejak lama. Oliver jatuh cinta terhadap Nefertiti, walau mereka mengobrol kurang dari dua kali, bahkan Oliver ragu Nefertiti masih mengingatnya.

    Membaca novel ini jujur perasaanku dibuat sesak sekali, penulis benar-benar membangun suasana muram, kelam bahkan dark begitu erat dalam karakter Nefertiti. Penulis membuatku terus terkejut dengan fakta-fakta yang terungkap selama perjalanan aku membaca novel ini. Sesuatu yang memang tidak bisa kutebak sebelumnya.

    Diceritakan dari sudut pandang Nefertiti dan Oliver, sebagai pembaca aku bisa merasakan apa yang mereka rasakan dan pikirkan. Nefertiti yang selalu merasa tidak pernah dicintai tanpa tahu keluarga dan bahkan ada seorang pemuja rahasianya. Disisi lain, Oliver yang sudah cenderung terobsesi dengan sosok Nefertiti, yang membuat dirinya malah mendekat ke kehidupan Ibu Nefertiti dan terkuaklah segala misteri yang melingkupi.

    Penulis benar-benar membuat alur yang cukup mengalir, walau kadang-kadang ada bagian-bagian yang membuatku bingung dengan siapa yang sedang berbicara tetapi aku tetap menikmatinya. Profesi tentang balet yang memang jarang dipakai, membuat kisah ini lebih berwarna. Setting tempat pun mendukung keseluruhan cerita.

    Novel ini mungkin bukanlah kisah romance sepasang kekasih yang mengharu biru, tetapi ini lebih ke kisah drama keluarga Nefertiti. Hubungan Nefertiti dan ibunya yang terlihat menonjol. Mereka saling mencintai dengan caranya masing-masing, dan jujur aku agak kecewa dengan endingnya. Walau memang penulis sudah mengutarakan sendiri, memang sengaja dibuat seperti ini, tetapi tetap saja aku tidak rela...

  5. says:

    Aku lelah mencari cinta di mata orang-orang di sekitarku. Untuk sekali saja, aku ingin dibutuhkan, disayangi tanpa harus meminta. – halaman 49

    Musim panas sudah berakhir, begitu pula perlarian Nefertiti di Santorini. Selama tiga bulan terakhir, dia menginap di hostel milik Angeliki dengan potongan harga yang cukup besar dan mencoba mengambil pekerjaan sampingan. Theos, putra Angeliki, ditugaskan untuk mengantarkannya ke bandara. Laki-laki yang hanya bicara dalam kondisi dan keadaan tertentu, akhirnya mengeluarkan suara. Dia ingin tahu seperti apa tempat berpulang Nefertiti. Cerita Nefertiti mundur jauh ke masa kecilnya, mulai dari kedua orangtuanya yang berusaha menemukan bakat seni dalam dirinya, perjuangannya mempelajari tarian balet, dan pertemanannya dengan anak bisu di kampung.

    Di tengah-tengah studi doktoralnya di Jerman, Oliver pulang ke Indonesia dan menghadiri reuni SMA. Nefertiti dan kemisteriusannya menjadi topik obrolan, membuat Oliver resah karena dia masih tidak tahu di mana tetangga sekaligus cinta pertamanya itu. Lucunya, Oliver berteman baik dengan ibu Nefertiti yang kini tinggal di Hamburg. Dari lukisan-lukisan ibu Nefertiti, Oliver mengetahui bahwa hubungan ibu dan anak itu tidak terlalu harmonis. Tekadnya untuk menemukan Nefertiti semakin kuat.

    --

    Sinopsis di bagian belakang cover Coppélia menipuku! Aku kira ceritanya akan seputaran perjuangan Oliver mencari cinta pertamanya di Jerman dan menemukan bahwa orang itu tidak seperti bayangannya. Mirip-mirip Paper Towns, gitu lah. Tapi bab pertama, yang diberi nama Act I, malah diceritakan oleh Nefertiti sendiri. Sedikit bingung sih. Untungnya cerita masa kecilnya sangat menarik, apalagi diceritakan dengan gaya bahasa yang enak dibaca dan banyak kalimat yang quotable, hahaha. Aku langsung bisa menikmati ceritanya dan sedikit penasaran dengan hal-hal kecil yang ikut dijelaskan. Lalu di Act II, Oliver akhirnya muncul dan menceritakan sisi lain cerita. Dari sana terlihatlah bagaimana detail sebelumnya menyatukan masa kecil mereka dan menjadi motivasi Oliver mencarinya. Ternyata oh ternyata, ini tidak hanya tentang cinta lawan jenis, tapi juga cinta ibu dan anak! Cukup mengejutkan buatku. Fakta-fakta masa lalu ibu Nefertiti perlahan-lahan terkuak dan membuat apa yang dialami Nefertiti saat masih kecil jadi terlihat berbeda dan punya pengertian lain.

    Sayangnya, ceritanya terlalu pendek dan masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, seperti bagaimana hubungan Nefertiti dan ibunya, kenapa dan ke mana ibu Nefertiti pergi, dan siapa yang Nefertiti pilih sebagai pasangan. Tapi aku suka dengan ceritanya. Masih terkagum-kagum dengan kejutan yang disuguhkan. Efek misteri yang tak terpecahkan itu juga membuat ceritanya unik. Mungkin ceritanya mengikuti struktur film Perancis yang pembukaan yang cukup panjang, tiba-tiba klimaks, dan punya ending yang mengantung ;p

    Baca review selengkapnya di http://dhynhanarun.blogspot.com/2015/...

  6. says:

    Setelah membaca ini, saya jadi makin penasaran sama karya penulis sebelumnya yang sudah masuk to-read list, Fantasy. Karena halamannya lebih tebal.

    Yap, karena novel ini kurang panjang!

    Sebelum itu. Banyak sekali hal bagus dalam buku ini, di antaranya:

    • Aura sendu yang pas. Dan meskipun muram, ada secercah harapan di belakangnya. Tipe-tipe cerita yang saya gemari.

    • Kompleksnya hubungan antarkarakternya. Selain para tokohnya yang tidak hitam-putih, perasaan satu karakter ke karakter lain pun tak hanya satu. Ada benci dan cinta, rindu dan frustrasi, sahabat dan kagum, semuanya terjadi bersamaan.

    • Latarnya. Baik itu latar tempat, waktu, dan eksternal seperti psikologis dan balet. Semuanya diletakkan dengan presisi dan hati-hati, sehingga terjahit baik dan indah dengan kisahnya.

    • Alur bolak-balik yang meminimalisasi kedataran cerita.

    • Pemilihan nama! Nefertiti ada bukan karena terdengar bagus, tapi karena kisah hidup Ibu. Begitupun Oliver.

    • Semua yang terjadi berdasarkan hukum sebab-akibat yang masuk akal dan saling berkesinambungan.

    • Endingnya yang pas dan bittersweet. (And no, Ma'am, I didn't hate your ending at all!)

    Sekarang tentang kekurang-panjangan cerita. Menurut saya ada beberapa yang bisa dijelaskan lebih jauh. Sebenarnya dengan seratus halaman lebih pun sudah terangkum dengan baik, kalau saja saya punya ilmu awal atau apersepsi yang sama dengan pengarangnya. Saya butuh penjelasan lanjut soal Coppélia dan hubungannya dengan tema cerita, soal balet, dan karakter INTJ ini--yaitu karakter Titi dan ibunya.

    Bicara soal INTJ, mungkin ini jadi sumber kediskoneksian saya dengan perasaan Titi. Saya orang INFP, dan sebagai sama-sama Ni, saya bisa memahami kesendirian Titi. Namun saya gagal paham mengapa sampai akhir pun Titi mau ibunya memandangnya bangga, dan ia tetap berusaha menjadi yang terbaik meskipun ia mengakui jiwanya tak sepenuhnya di balet.

    Yah, mungkin itulah pandangan seorang INTJ. Bagi INFP sendiri, yang penting adalah orang yang kita sayangi menerima kita dan apa yang kita lakukan meski itu jauh dari yang diharapkan.

    Bacaan singkat yang tak ringan. Pada akhirnya, buku ini berujar bahwa tiap orang pantas mendapatkan cinta.

  7. says:

    Kalau kamu bertanya kepadaku apa inti dari buku ini, pasti jawabanku cuma satu kata: ibu.

    Kalau kamu bertanya kenapa sesingkat itu, pastilah aku menjawab karena memang hanya itu inti yang ditangkap sepanjang aku membacanya. Dan bisa dibilang bintang ketiga kuberikan untuk tema yang diangkat oleh penulis. Selebihnya? Bisa dibilang aku pusing. Suka tidak, tapi bukan berarti tidak suka. Deskripsi lokasinya indah, namun hanya itu. Tema seorang penari balet menarik, tapi tidak semenarik itu hingga membuatku betah membaca. Mungkin aku hanya terbiasa membaca kisah yang berbahasa lugas hingga membaca yang terlalu 'tinggi' jadi ngejelimet sendiri. :)) My mistake.

  8. says:

    Aku selalu 'sangat' menyukai cerita-cerita seperti ini. Karakter tokoh utama yg berbeda dari kebanyakan orang. Bukan hanya membahas tentang cinta. Cerita yg manis, tapi tidak berlebihan. Dan yang terpenting tidak vulgar

    4 bintang untuk keseluruhan cerita. Plus setengah bintang untuk cinta Oliver dan program doktoralnya ^^

  9. says:

    Actual score : 4 from 5 stars

    Baca lebih lengkap review novel ini di blog Putri Review : Rumitnya Hubungan Ibu & Anak dalam novel Coppelia by Novellina A.

    Beberapa halaman setelah saya membaca novel Coppelia, saya mengerutkan dahi, kemudian mengecek bagian kiri atas dari cover depan.

    Serius nih, Metropop?

    Maaf kalau saya salah paham, silakan kalau ada yang bisa meluruskan, tapi sejak awal kemunculannya, lini Metropop itu bagi saya dekat dengan tema urban, cinta haha hihi, modern. Itulah mengapa kisahnya tak jauh2 dari lajang2 ibukota dengan pekerjaan mentereng yang dilema antara pekerjaan dan cinta, atau perang batin seorang gay/lesbian dengan orientasi seksualnya. Salah satu karya yang menurut saya Metropop banget (dan memang pelopor) adalah trilogi Indiana's Chronicle karya Clara Ng.

    Tetapi Coppelia sangat jauh dari contoh dan pemahaman saya tentang Metropop tersebut. Cerita awal novel ini mengingatkan saya akan karya2 penulis asing yang dielu2kan, yang umumnya bercerita tentang perjalanan tokoh utama bertemu dengan orang2 asing, dan mendapatkan kebijaksanaan dari sana.

    Namun perasaan itu hanya kental di awal2 saja, setelahnya cerita mulai mengalir seperti novel fiksi roman populer pada umumnya, meskipun masih sarat akan gaya penceritaan Novellina yang detail dan sedikit menyentil isu sosial.

    Saya cukup suka dengan novel ini. Terasa sedikit lebih berat daripada novel metropop pada umumnya. Penulisnya pun terlihat menguasai setting dan karakterisasi dengan sangat baik. Elemen balet, juga penggambaran lokasi Santorini dan Hamburg sangat detail, meskipun untuk deskripsi tempat pergerakannya sedikit terlalu cepat, sehingga saya kurang bisa menikmati setiap lokasi yang disambangi Nefertiti.

    Yang saya sayangkan adalah alur novel yang sedikit membingungkan. Novel ini dibawakan lewat sudut pandang orang pertama dari dua tokoh : Nefertiti dan Oliver, cowok tetangga Nefertiti di Jakarta yang memang diam2 menyimpan kagum pada gadis itu sejak lama. Sudut pandangnya cukup jelas, tapi latar tempat dan waktunya terasa melompat-lompat, membuat saya harus menelaah dua kali untuk memahami kronologis peristiwa demi peristiwa--namun meskipun begitu, masih ada beberapa momen yang tak jelas dimana dan kapannya, sedikit mengurangi kenikmatan saya dalam membaca.

    Hal kedua yang saya sayangkan adalah endingnya. Saya terbuka dengan ending macam apapun, bahkan ending terbuka yang menuntut pembaca untuk menebak2 sendiri. Tapi menurut saya ending Coppelia terlalu penuh tanda tanya. Saya masih tak paham mengapa Nefertiti kabur lagi dari Oliver, pergi untuk waktu yang lama ke tempat tinggal teman bapak ibunya di Hamburg tanpa mengabari, lalu kembali. Apakah dia bertemu dengan ibunya di sana? Atau tidak? Mengapa?

    Yang ketiga, beberapa selipan teori dari kata2 sulit awalnya memperdalam cerita. Membuat tipe pembaca yang haus wawasan seperti saya jadi makin menggebu2 dalam membaca. Tapi, makin ke belakang, selipan teorinya makin terasa seperti buku teks, bukan untuk kekayaan cerita. Puncaknya adalah penjelasan tentang tipe kepribadian INTJ yang dijelaskan sambil lalu tanpa memberitahu mengapa kepribadian itu begitu berbeda. Pembaca bisa googling sendiri, tentu saja, tapi sayangnya info itu berhubungan erat dengan tokoh utama (Nefertiti), dan saya tidak keberatan untuk membaca satu-dua paragraf yang bisa membuat saya mengerti kenapa Nefertiti yang memiliki tipe kepribadian INTJ yang sama dengan teman saya bisa begitu berbeda. Saya bisa mengerti teman saya, mengapa Nefertiti menjadi begitu misterius dengan tipe kepribadian tersebut?

    Saya merasa, Nefertiti dan ibunya pada novel Coppelia ini pada akhirnya terlalu misterius untuk saya terjemahkan. Saya simpulkan, memang mungkin begitulah orang2 yang kelewat artistik, sama seperti psikopat, mereka punya cara mereka sendiri untuk mengungkapkan cinta. Meskipun begitu, saya kagum dengan tata bahasa penulisnya. Saya suka dengan niatnya untuk membahas tema ibu dan anak dari sudut pandang lain, tentang hal yang sering dilupakan orang : bahwa ibu tidak begitu saja ada di dunia, dia hadir bersamaan dengan kelahiran anak dalam gendongannya.

    Bravo Novellina, saya tunggu karya berikutnya ya :)

  10. says:

    rated 5 / 5 stars
    thank you, Jenny yang sudah berbaik hati meminjamkan bukunya :D

    Sinopsis:
    Sejak kecil Oliver sudah jatuh cinta pada Nefertiti yang aneh. Namun, tetangga depan rumah sekaligus teman sekelasnya itu tiba-tiba menghilang. Oliver ditinggalkan sebelum sempat membuat gadis itu mengingat namanya.

    Sampai ke Jerman, Oliver mencari cinta pertamanya. Hingga akhirnya mereka bertemu. Tetapi, keadaan telah berubah. Nefertiti bukan lagi gadis yang dulu. Penari balet itu terluka sangat dalam dan menganggap cinta sebagai rasa asing yang terlalu mewah untuk ia miliki.

    Akankah cinta menemukan jalannya, atau Nefertiti tidak akan dapat meloloskan diri dari masa lalunya yang begitu dingin… sedingin kisah boneka Coppélia yang begitu dicintai ibunya.

    Review:
    Nefertiti adalah seorang anak yang terlahir dari keluarga yang memiliki bakat. Ayahnya adalah seorang arsitek yang tenar dan ibunya adalah pelukis dari keturunan yang tenar juga. Seluruh hidupnya Nefertiti hanya ingin mendapatkan kasih sayang dan perhatian ibunya. Karena ibunya adalah seorang seniman, Nefertiti merasa dia harus memiliki bakat di bidang seni. Diapun akhirnya menggeluti bidang ballet.

    Nefertiti merupakan pemain balet yang lumayan berbakat. Ia sempat bergabung di Staatsballet, salah satu organisasi ballet di Berlin. Tetapi setelah memiliki bakat ballet ini ia tetap tidak bisa mendapat perhatian ibunya. Karena kurangnya perhatian dari ibunya, Nefertiti tumbuh menjadi wanita yang berbeda, dia menjadi orang yang tidak percaya dalam hal percintaan dan menjadi orang yang sinis.

    Di sisi lain ada Oliver, sejak dulu ia selalu menyukai Nefertiti. Sampai sekarangpun dia masih menyukai Nefertiti bahkan ia masih menunggunya dan mencarinya bahkan disaat dia tahu bahwa Nefertiti menjadi seorang penari ballet di Berlin. Ia memutuskan untuk mengeyam pendidikannya di Berlin dengan harapan bisa mengenal lebih dekat Nefertiti. Anehnya, ibu Nefertiti lebih dekat dengan Oliver daripada Nefertiti.

    Kebencian adalah ungkapan lain bahwa kita sangat mencintai orang itu. Namun untuk alasan tertentu, kita memilih membencinya. Hal itu lebih baik daripada menganggapnya tak ada.

    read my full review on http://booksoverall.blogspot.com/2015...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *